Renungan

Setia dalam Perkara Kecil: 20 Tahun Perjalanan Iman dan Pelayanan

27 July 2026

Matius 25:21

"Jawab tuannya itu kepadanya: 'Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-ku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.'" Matius 25:21

1. Pesan Renungan

Dalam dunia yang sering kali mengukur keberhasilan dari kemewahan, hasil yang instan, dan angka yang besar, Tuhan bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Ia tidak memandang dari mana kita memulai, melainkan bagaimana kita merespons panggilan-Nya dengan kesetiaan dan ketulusan hati.

Perjalanan mengikut Tuhan bukanlah sprint yang singkat, melainkan sebuah maraton iman. Ketika kita mau diproses melalui perkara-perkara kecil, mau berjalan dalam kerendahan hati, dan tetap memelihara semangat pelayanan di tengah keterbatasan, di situlah kuasa dan kebaikan Tuhan dinyatakan. Kesetiaan yang diuji dalam kesederhanaan adalah pondasi yang kokoh bagi pekerjaan Tuhan yang lebih besar dalam hidup kita.

Melalui perjalanan hidup dan pelayanan ini, kita diajak untuk melihat kembali setiap langkah iman kita:

• Memulai dari Langkah Kecil: Jangan pernah meremehkan awal yang sederhana. Setiap langkah kecil yang diambil dalam ketaatan akan dituntun oleh Tuhan menuju pengenalan yang lebih dalam akan panggilan-Nya.

• Ketekunan di Tengah Kesukaran: Proses membentuk karakter. Jalan kaki, keterbatasan fasilitas, dan ketidakpastian bukanlah penghalang, melainkan sarana Tuhan untuk memurnikan motivasi pelayanan kita.

• Tuhan yang Janji dan Setia Menepati: Ketika kita menyertakan Tuhan dan setia menggembalakan generasi sejak dini, Tuhan membuka pintu-pintu kepercayaan yang lebih besar, baik dalam keluarga, profesi, maupun panggilan hidup.

• Sukacita Pelayanan Sejati: Pelayanan tidak terbatas di dalam dinding gereja. Kekayaan sejati bukanlah diukur dari materi, melainkan dari limpahan kasih dan belas kasihan untuk memberkati dan memenangkan generasi bagi Kristus.


2. Kesaksian Hidup

Nama saya Hotdiman Sandy Sianturi, S.Th., S.Pd., M.Pd. Perjalanan iman saya dimulai pada tahun 1999 di sebuah desa kecil di Paranginan, Kabupaten Tapanuli Utara. Dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), saya mengalami kasih Kristus yang begitu nyata dan mengubah jalan hidup saya. Sejak momen pertobatan itu, ada kerinduan yang sangat besar di dalam hati saya untuk mendalami Firman Tuhan dan melayani-Nya.

Kerinduan tersebut membawa saya memberanikan diri merantau ke Jakarta pada tahun 2004 demi melanjutkan sekolah teologi. Bermodalkan ingatan akan seorang hamba Tuhan yang memimpin KKR di kampung kami—yang saat itu melayani di Cilincing, Jakarta Utara—saya berangkat naik Bus ALS dari Balige. Setelah menempuh perjalanan darat selama 3 hari 3 malam, saya tiba di Jakarta sekitar pukul satu malam. Atas kebaikan Tuhan, saya diturunkan di daerah Cakung dan melanjutkan perjalanan dengan ojek pangkalan menuju alamat yang tertulis di secarik kertas. Hamba Tuhan tersebut menyambut saya dengan sangat baik dan mengizinkan saya tinggal di rumahnya.

Perjalanan di Jakarta tidak selalu mudah. Saya melewati berbagai proses kehidupan, sempat tinggal dan melayani selama 6 bulan di GBI Mawar Saron, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan saya dengan sekolah teologi yang sesuai. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai anak kos tanpa membebani orang tua di kampung, saya melayani dengan penuh rasa syukur.

Pada tahun 2006, seorang rekan mahasiswa kampus teologi mengenalkan saya dengan perintisan ibadah GBI Salemba yang saat itu masih beribadah sore hari pukul 17.00 di Gedung Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Di sana saya disambut hangat oleh Pdt. David Natanael dan para pengerja. Saya langsung dipercayakan melayani di Sekolah Minggu.

Pelayanan kala itu sangat sederhana. Ruang Sekolah Minggu cukup sempit dan bising jika Ibadah Raya berlangsung. Anak-anak yang hadir hanya sekitar 4 hingga 6 orang—salah satunya adalah Efraim (Eca). Guru Sekolah Minggu hanya ada 4 orang, dan puji Tuhan, yang bertahan hingga hari ini adalah saya dan Kak Rosiana Siburian. Setelah selesai melayani, saya menerima persembahan transport sebesar Rp 15.000. Bagi saya, itu adalah berkat yang sangat besar. Demi menghemat uang untuk biaya hidup, saya sering berjalan kaki selama 45 menit dari Gedung LAI menuju arah Jatinegara/Bassura. Namun karena sudah terbiasa berjalan kaki di kampung, hal itu tidak pernah menyurutkan semangat saya.

Terkadang sambil menunggu anak-anak Sekolah Minggu datang, saya membantu Pak David menjadi usher di gerbang LAI. Kenangan indah yang tak terlupakan adalah melihat kegigihan Pdt. David Natanael dan rekan-rekan pengerja (Bu Nila, Bu Herna, Pak Cahyadi, Ko Martin, Kak Ana). Setiap minggu, kami yang hanya belasan orang tekun berdoa di sebuah ruangan kecil yang sempit dan panas di toko material daerah Tambak. Di ruangan sederhana itulah Tuhan menguji dan memurnikan kesetiaan para pengerja.

Seiring berjalannya waktu, Tuhan memberi saya keberanian untuk memimpin kelompok sel (FA). Jiwa-jiwa yang saya layani saat itu adalah para orang tua lansia dengan keterbatasan fisik. Saya harus berjalan kaki pergi dan pulang setiap kali melayani FA. Namun hal itu bukanlah beban, melainkan kebahagiaan tak ternilai saat melihat jiwa-jiwa yang terbatas tetap memiliki kerinduan besar menyembah Tuhan. Melalui pelayanan FA ini pula, Tuhan mempertemukan dan memberkati saya dengan seorang istri, yang merupakan anak dari salah satu jemaat FA yang saya layani.

Ketika saya terus setia melayani anak-anak, saya sungguh mengalami bahwa Tuhan itu sangat baik. Dia bukan hanya berjanji, tetapi Dia adalah Allah yang setia menepati. Kesetiaan melayani generasi sejak dini membawa dampak yang luar biasa dalam kehidupan profesi saya. Pada tahun 2009, Tuhan membawa saya melayani di sebuah sekolah dan menjadi guru di jenjang SMA. Kebaikan dan kesetiaan Tuhan tidak berhenti di situ; sejak tahun 2016 hingga hari ini —sudah 10 tahun berlalu—Tuhan mempercayakan saya menjadi Kepala Sekolah di unit SMA tersebut.

Bagi saya, menyampaikan dan mengabarkan Kabar Baik adalah misi terbesar saya sebagai anak Tuhan, dan profesi sebagai pendidik adalah ladang pelayanan yang Tuhan percayakan. Di samping itu, Tuhan mempercayakan dan memberkati keluarga kami dengan 3 orang anak yang manis-manis—semuanya adalah bukti nyata kebaikan Tuhan dalam hidup kami.

Mungkin secara materi dan harta saya bukanlah orang yang kaya, tetapi Tuhan menganugerahkan kekayaan yang jauh lebih berharga: kekayaan kasih, kepedulian, dan belas kasihan terhadap generasi muda. Profesi saya sebagai pendidik dan kepala sekolah menjadi mimbar bagi saya untuk terus menyuarakan kasih Kristus yang abadi. Tak terasa, sejak 2006 hingga tahun 2026 ini, genap 20 tahun pengabdian saya di GBI Salemba. Hati saya tetap penuh cinta untuk melayani anak-anak Sekolah Minggu.


Dibuat oleh: Hotdiman Sandy Sianturi, S.Th., S.Pd., M.Pd.

GBI Salemba

Plaza Kenari Mas lantai 7A (Top Floor)

Samping lapangan bulutangkis

Jl. Kramat Raya No.101, Paseban, Jakarta Pusat 10440

"Setialah melayani dalam perkara sekecil apa pun, karena di mata Tuhan, tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Jangan pernah ragu untuk menyerahkan masa depan dan generasimu ke dalam tangan-Nya, sebab Allah yang memanggil kita adalah Allah yang setia menepati setiap janji-Nya. Kiranya hidup kita senantiasa menjadi saluran kasih yang memancarkan terang Kristus bagi generasi masa kini dan masa depan."