Thursday, February 26, 2026

Prajurit yang menuntaskan Amanat Agung (Bagian 1)


Bagian 1 : Mentalitas Prajurit dan Panggilan untuk Menderita.


Kekristenan bukanlah sebuah klub santai atau tempat perlindungan dari masalah. Rasul Paulus dengan tegas menggambarkan orang percaya sebagai seorang prajurit. Dalam 2 Timotius 2:3-4, ia berkata: "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."

Menjadi prajurit berarti identitas kita telah berubah. Kita bukan lagi warga sipil yang bebas menentukan nasib sendiri; kita adalah milik Komandan kita, Yesus Kristus. Karena itu, standar hidup kita bukan lagi kenyamanan pribadi, melainkan kerelaan untuk berkorban demi misi Sang Komandan.

Seperti prajurit di medan perang yang pasti menghadapi kesulitan, demikian pula hidup kita. Dari ayat ini Paulus menjabarkan bahwa penderitaan ini memiliki 4 dimensi:

1. Ikut Menderita adalah Anugerah (Filipi 1:29)
“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”
Ayat ini membalikkan logika dunia. Dunia menganggap penderitaan adalah kutukan, tetapi Firman Tuhan menyebutnya sebagai karunia. Sama seperti iman adalah pemberian Allah, kesempatan untuk menderita demi Nama-Nya juga merupakan kepercayaan istimewa. Ini bukti bahwa kita dianggap layak untuk ambil bagian dalam penderitaan-Nya.

2. Konsekuensi Iman: Hidup Saleh Pasti Dianlaya (2 Timotius 3:12)
“Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.”
Ini bukan kemungkinan, melainkan kepastian. Iman yang sejati akan berbenturan dengan nilai-nilai dunia. Jika kita tidak pernah mengalami gesekan dengan dunia karena iman kita, mungkin kita sudah terlalu mirip dengan dunia. Prajurit yang baik harus sadar bahwa medan perang itu nyata; ada musuh yang menentang.

3. Mematahkan Kuasa Dosa melalui Penderitaan Badani (1 Petrus 4:1-2)
“Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian,—karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa—supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”
Penderitaan di sini bisa berarti "siksaan" terhadap kedagingan. Ada kalanya menjadi prajurit Kristus berarti dengan sengaja menyiksa hawa nafsu dan keinginan daging. Ketika kita memilih untuk tidak membalas kejahatan (1 Ptr 2:20-23), atau tetap berbuat baik meski disakiti (1 Ptr 3:13-14, 17), di situlah kita mengalami "penderitaan badani" yang mematikan ego dan mempermuliakan Allah.

4. Menderita bagi Injil: Bukan Roh Ketakutan (2 Timotius 1:7-8)
“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita... melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya.”
Penderitaan terbesar seringkali bukan fisik, tapi tekanan mental: takut ditolak, takut dianggap aneh. Namun sebagai prajurit, kita dipersenjatai dengan kekuatan ilahi untuk berani bersaksi walau ada resiko.

Untuk di renungkan.

1. Apakah selama ini saya menjalani iman seperti "prajurit" atau seperti "turis rohani" yang hanya mencari kenyamanan?
2. Dari keempat dimensi penderitaan di atas, mana yang paling saya hindari?

Tuhan Yesus Memberkati.